Di tengah modernisasi yang sering kali menggerus interaksi sosial, masyarakat Bangka Belitung memiliki sebuah benteng pertahanan budaya yang kokoh. Benteng itu tidak terbuat dari batu atau semen, melainkan dari anyaman tudung saji dan kehangatan dulang makanan. Tradisi itu bernama Nganggung.
Lebih dari sekadar ritual makan bersama, Nganggung adalah manifestasi nyata dari nilai gotong royong dan kebersamaan yang telah mendarah daging dalam nadi masyarakat Negeri Serumpun Sebalai.
Nganggung, atau sering juga disebut dengan istilah Sepintu Sedulang, secara harfiah menggambarkan semangat partisipasi. Konsepnya sederhana namun mendalam: setiap satu rumah (pintu) membawa satu dulang (nampan besar) berisi makanan ke tempat pertemuan, biasanya masjid, surau, balai desa atau rumah-rumah.
Pemandangan saat tradisi ini berlangsung sangatlah khas. Ratusan dulang yang ditutup dengan tudung saji—biasanya berwarna merah terang dengan motif ornamen yang indah—berjejer rapi. Warna merah ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol keberanian dan persatuan yang menyala dalam hati masyarakat.
Kekuatan utama dari budaya Nganggung terletak pada nilai kebersamaan atau gotong royong tanpa memandang kasta sosial tertentu. Saat prosesi makan dimulai, semua sekat sosial runtuh. Tidak ada meja VIP untuk pejabat, Tidak ada kursi khusus untuk orang kaya, Semua orang duduk bersila di lantai, sejajar, dan setara.
Di hadapan dulang/nampan, seorang pejabat publik bisa saja duduk bersebelahan dengan seorang petani atau buruh harian. Mereka menyantap nasi, lauk pauk, kue-kue tradisional, hingga lempah kuning dari nampan yang sama. Inilah wujud tertinggi dari kebersamaan. Nganggung mengajarkan bahwa di mata Tuhan dan sesama manusia, kita memiliki derajat yang sama. Rasa lapar dan rasa kenyang dirasakan bersama-sama, menciptakan ikatan emosional yang sulit diputus.
Nganggung biasanya dilaksanakan pada hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi, Isra Mi’raj, Idulfitri, Iduladha, atau saat menyambut tamu kehormatan dan upacara kematian (menghibur keluarga yang berduka).
Tradisi ini membuktikan bahwa bagi masyarakat Bangka Belitung, hidup rukun bukanlah sebuah wacana, melainkan praktik nyata. Nganggung adalah “pesta rakyat” yang sesungguhnya, di mana setiap orang adalah tuan rumah sekaligus tamu.
Sebagai warisan budaya takbenda, Nganggung adalah pengingat abadi bahwa seberat apa pun beban hidup, jika dipikul bersama (seperti mengangkat dulang) dan dinikmati bersama (seperti menyantap isinya), semuanya akan terasa lebih ringan dan nikmat. Ia adalah bukti bahwa gotong royong dan kebersamaan bukan hanya masa lalu, tetapi adalah identitas masa depan Bangka Belitung.
Bagikan:
- Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
- Share on X (Opens in new window) X
- Share on Tumblr (Opens in new window) Tumblr
- Share on Threads (Opens in new window) Threads
- Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
- Share on Telegram (Opens in new window) Telegram
- Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
- Share on Pinterest (Opens in new window) Pinterest
